Iklan

Marga-marga Batak Versi Facebook Ditulis Kacau

Kali ini saya ingin mengulas sedikit perilaku orang-orang Batak dalam menuliskan marga di Facebook. Sekilas hal itu tampak seperti kreativitas, tapi menurut saya, itu bisa dianggap sebagai sikap tak hormat terhadap leluhur.



Tapi sebelumnya, mari kita sejenak mengilas-balik asal-usul marga-marga Batak. Sampai saat ini, sumber ilmiah tentang asal-usul marga-marga Batak belum ada yang saya temukan memadai. Oleh karena itu, sumber yang masih dipercayai hingga saat ini adalah mitos Si Raja Batak, manusia pertama yang menjadi cikal-bakal seluruh marga-marga Batak di muka bumi ini.

Sebagaimana dipercaya, Si Raja Batak diturunkan Mulajadi Na Bolon di pegunungan Pusuk Buhit, dan kemudian hidup sebagai manusia Batak pertama di Sianjurmula-mula. Tentang hal ini, banyak sumber-sumber yang dapat dibaca, terlebih di era digital sekarang. Para pemerhati budaya Batak sudah banyak menuliskan kisah-kisah tentang Si Raja Batak di media internet, baik yang diperoleh melalui kisah (turi-turian) secara turun-temurun, maupun yang diperoleh dari sumber-sumber bacaan.

Mitos itu menyebutkan, Si Raja Batak memiliki dua anak, yaitu: Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Guru Tateabulan kemudian memperanakkan Raja Biak-biak, Sariburaja, Limbongmulana, Sagalaraja dan Malauraja. Beberapa sumber menyebut, Raja Biak-biak lahir sebagai anak yang tidak normal, dan kemudian diberkati dan diterbangkan Mulajadi Na Bolon ke ujung Aceh dan dipercaya sebagai Raja Uti. Sedangkan adiknya Sariburaja memperanakkan Raja Lontung dan Raja Borbor. Demikian juga Limbongmulana, ia memperanakkan Pulauonggang dan Langgat Limbong. Sagalaraja dan Malauraja juga memiliki banyak anak dan menyebar ke berbagai tempat. Itulah marga-marga dari kelompok Guru Tateabulan yang kita kenal sekarang.

Kita ambil contoh, Raja Lontung punya 7 anak, yaitu Aritonang, Siregar, Simatupang, Nainggolan, Pandiangan, Sinaga dan Situmorang. Masing-masing marga ini juga punya cabang-cabang sesuai nomor atau urutan silsilah.

Sementara, Raja Isumbaon mempunyai tiga anak. Pertama, Sorimangaraja. Dari Sorimangaraja ini lahirlah Raja Naiambaton (Parna) yang kemudian memperanakkan 60 marga lebih dan hingga saat ini mereka belum bisa saling menikahi. Sorimangaraja juga memperanakkan Nai Rasaon dan anak-anaknya saat ini hidup sebagai marga-marga yang kita kenal seperti Manurung, Sitorus, Sirait dan Butar-butar. Satu Lagi anak Sorimangaraja adalah Raja Naisuanon, dari cabang ini muncul marga-marga keturunan Tuan Sorbadibanua, Sibagotnipohan dan seterusnya. Dari sinilah kita kenal marga-marga keturunan (pomparan) Tuan Dibangarna, Tuan Somanimbil, Sonakmalela, Partano, Silahisabungan, Rajaoloan dan seterusnya.

Silsilah lengkap perjalanan marga-marga ini tidak mungkin saya tulis dalam artikel singkat ini. Hanya saja, berdasarkan silsilah itu, dapatlah diketahui bahwa marga-marga orang Batak saat ini adalah nama-nama leluhur atau ompung si jolo-jolo tubu. Sebagaimana dianut masyarakat Batak lama, pemberian nama itu tidak sembarangan. Nama diberi kepada seseorang berdasarkan takdirnya, dan adakalanya ia diberi nama berdasarkan kesaktiannya. Hal itu kurang lebih sama dengan zaman modern, seseorang diberi nama tidak asal jadi, tapi sangat terkait dengan makna dan harapan di masa depan.

Dengan demikian, nama-nama leluhur orang Batak, yang saat ini dipakai sebagai marga penanda asal-usul, sesungguhnya adalah nama-nama sakral yang harus dihormati dan tidak sepatutnya dipermain-mainkan.

Tapi generasi muda sekarang tampak seenaknya mempermain-mainkankan nama itu. Dan hal itu tampak sangat mencolok di media sosial Facebook. Dan anehnya, hampir tidak ada orangtua mengingatkan hal ini. Bahkan, sejumlah orangtua juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama.

Saya sebetulnya tidak suka berurusan dengan Facebook ini. Tapi karena saya gemar menulis dan ingin menyebarluaskan tulisan-tulisan saya (meskipun tulisan jelek), mau tidak mau saya harus menggunakan jejaring ini sebagai media sharing. Dan alangkah terkejutnya saya melihat generasi baru yang lupa sejarah ini bermain-main dengan marga itu.

Cobalah perhatikan, ada marga Chinaga, Cheenaga, Lubizz, Manullank, Chimbolons, Manurunk, Zuntax, Charagieh, Cipayunk, Tupank, Manroe, Zitumorang, Lumban Tungx, Cylalahi, Laganz, Labanzs, Gurns, Ringgoes, Ciagian, Tampuboel, Ciregar, Aritonz dan lain-lain, dan akan sangat panjang jika diurutkan.

Seperti saya sebut di atas, sekilas penulisan marga-marga itu tampak seperti kreativitas, tapi bagi saya itu sangat mengganggu. Jika Anda peduli, silahkan tegur atau sampaikan kepada adik, kakak, abang atau saudara Anda agar sebaiknya menuliskan marga dengan benar.

Bagi orangtua, ada baiknya memantau setiap jejaring sosial milik anak-anak agar penulisan-penulisan semacam itu tidak terus terulang dan kita sama sekali tidak peduli. Demikianlah, semoga bermanfaat. Horas Batak.***


Kali ini saya ingin mengulas sedikit perilaku orang-orang Batak dalam menuliskan marga di Facebook. Sekilas hal itu tampak seperti kreativitas, tapi menurut saya, itu bisa dianggap sebagai sikap tak hormat terhadap leluhur.



Tapi sebelumnya, mari kita sejenak mengilas-balik asal-usul marga-marga Batak. Sampai saat ini, sumber ilmiah tentang asal-usul marga-marga Batak belum ada yang saya temukan memadai. Oleh karena itu, sumber yang masih dipercayai hingga saat ini adalah mitos Si Raja Batak, manusia pertama yang menjadi cikal-bakal seluruh marga-marga Batak di muka bumi ini.

Sebagaimana dipercaya, Si Raja Batak diturunkan Mulajadi Na Bolon di pegunungan Pusuk Buhit, dan kemudian hidup sebagai manusia Batak pertama di Sianjurmula-mula. Tentang hal ini, banyak sumber-sumber yang dapat dibaca, terlebih di era digital sekarang. Para pemerhati budaya Batak sudah banyak menuliskan kisah-kisah tentang Si Raja Batak di media internet, baik yang diperoleh melalui kisah (turi-turian) secara turun-temurun, maupun yang diperoleh dari sumber-sumber bacaan.

Mitos itu menyebutkan, Si Raja Batak memiliki dua anak, yaitu: Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Guru Tateabulan kemudian memperanakkan Raja Biak-biak, Sariburaja, Limbongmulana, Sagalaraja dan Malauraja. Beberapa sumber menyebut, Raja Biak-biak lahir sebagai anak yang tidak normal, dan kemudian diberkati dan diterbangkan Mulajadi Na Bolon ke ujung Aceh dan dipercaya sebagai Raja Uti. Sedangkan adiknya Sariburaja memperanakkan Raja Lontung dan Raja Borbor. Demikian juga Limbongmulana, ia memperanakkan Pulauonggang dan Langgat Limbong. Sagalaraja dan Malauraja juga memiliki banyak anak dan menyebar ke berbagai tempat. Itulah marga-marga dari kelompok Guru Tateabulan yang kita kenal sekarang.

Kita ambil contoh, Raja Lontung punya 7 anak, yaitu Aritonang, Siregar, Simatupang, Nainggolan, Pandiangan, Sinaga dan Situmorang. Masing-masing marga ini juga punya cabang-cabang sesuai nomor atau urutan silsilah.

Sementara, Raja Isumbaon mempunyai tiga anak. Pertama, Sorimangaraja. Dari Sorimangaraja ini lahirlah Raja Naiambaton (Parna) yang kemudian memperanakkan 60 marga lebih dan hingga saat ini mereka belum bisa saling menikahi. Sorimangaraja juga memperanakkan Nai Rasaon dan anak-anaknya saat ini hidup sebagai marga-marga yang kita kenal seperti Manurung, Sitorus, Sirait dan Butar-butar. Satu Lagi anak Sorimangaraja adalah Raja Naisuanon, dari cabang ini muncul marga-marga keturunan Tuan Sorbadibanua, Sibagotnipohan dan seterusnya. Dari sinilah kita kenal marga-marga keturunan (pomparan) Tuan Dibangarna, Tuan Somanimbil, Sonakmalela, Partano, Silahisabungan, Rajaoloan dan seterusnya.

Silsilah lengkap perjalanan marga-marga ini tidak mungkin saya tulis dalam artikel singkat ini. Hanya saja, berdasarkan silsilah itu, dapatlah diketahui bahwa marga-marga orang Batak saat ini adalah nama-nama leluhur atau ompung si jolo-jolo tubu. Sebagaimana dianut masyarakat Batak lama, pemberian nama itu tidak sembarangan. Nama diberi kepada seseorang berdasarkan takdirnya, dan adakalanya ia diberi nama berdasarkan kesaktiannya. Hal itu kurang lebih sama dengan zaman modern, seseorang diberi nama tidak asal jadi, tapi sangat terkait dengan makna dan harapan di masa depan.

Dengan demikian, nama-nama leluhur orang Batak, yang saat ini dipakai sebagai marga penanda asal-usul, sesungguhnya adalah nama-nama sakral yang harus dihormati dan tidak sepatutnya dipermain-mainkan.

Tapi generasi muda sekarang tampak seenaknya mempermain-mainkankan nama itu. Dan hal itu tampak sangat mencolok di media sosial Facebook. Dan anehnya, hampir tidak ada orangtua mengingatkan hal ini. Bahkan, sejumlah orangtua juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama.

Saya sebetulnya tidak suka berurusan dengan Facebook ini. Tapi karena saya gemar menulis dan ingin menyebarluaskan tulisan-tulisan saya (meskipun tulisan jelek), mau tidak mau saya harus menggunakan jejaring ini sebagai media sharing. Dan alangkah terkejutnya saya melihat generasi baru yang lupa sejarah ini bermain-main dengan marga itu.

Cobalah perhatikan, ada marga Chinaga, Cheenaga, Lubizz, Manullank, Chimbolons, Manurunk, Zuntax, Charagieh, Cipayunk, Tupank, Manroe, Zitumorang, Lumban Tungx, Cylalahi, Laganz, Labanzs, Gurns, Ringgoes, Ciagian, Tampuboel, Ciregar, Aritonz dan lain-lain, dan akan sangat panjang jika diurutkan.

Seperti saya sebut di atas, sekilas penulisan marga-marga itu tampak seperti kreativitas, tapi bagi saya itu sangat mengganggu. Jika Anda peduli, silahkan tegur atau sampaikan kepada adik, kakak, abang atau saudara Anda agar sebaiknya menuliskan marga dengan benar.

Bagi orangtua, ada baiknya memantau setiap jejaring sosial milik anak-anak agar penulisan-penulisan semacam itu tidak terus terulang dan kita sama sekali tidak peduli. Demikianlah, semoga bermanfaat. Horas Batak.***


0 Response to "Marga-marga Batak Versi Facebook Ditulis Kacau"

Post a Comment

loading...